• Beranda
Cari Dokter

AGAR IBADAH PUASA TIDAK TERASA BERAT

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirahmanirrahim

يٰۤـاَيُّهَا  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  كُتِبَ  عَلَيْکُمُ  الصِّيَا مُ  کَمَا  كُتِبَ  عَلَى  الَّذِيْنَ  مِنْ  قَبْلِکُمْ  لَعَلَّكُمْ  تَتَّقُوْنَ  

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat singkat ini menjelaskan cara Allah dalam menetapkan syariat (tasyri’) puasa dan syariat-syariat lainnya, karena cara penetapan syariat puasa ini mewakili cara Allah dalam menetapkan semua syariat-Nya. Sebelum menyampaikan hukum dan syariat-Nya, Allah melakukan beberapa pendekatan untuk mengondisikan jiwa agar menerimanya dengan ridha. Diantaranya pendekatan iman, pendekatan sejarah, pendekatan bahasa dan lainnya.

Pertama, Allah menyeru orang-orang yang beriman dengan seruan iman:

 “يا ايها الذين امنوا “.

Panggilan sayang dari Allah kepada orang-orang beriman di awal ayat ini, sebelum menyampaikan kewajiban, dimaksudkan untuk mengajak orang-orang beriman tersebut agar merespons kewajiban yang akan disampaikan itu dengan iman atau sebagai konsekwensi dari keimanannya.

Orang yang beriman pasti merespons kewajiban Allah dengan “sami’na wa atha’na”, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain:

اِنَّمَا  كَا نَ  قَوْلَ  الْمُؤْمِنِيْنَ  اِذَا  دُعُوْۤا  اِلَى  اللّٰهِ  وَرَسُوْلِهٖ  لِيَحْكُمَ  بَيْنَهُمْ  اَنْ  يَّقُوْلُوْا  سَمِعْنَا  وَاَ طَعْنَا   ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ  هُمُ  الْمُفْلِحُوْنَ

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, Kami mendengar, dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

Ucapan dan respon “kami mendengar dan kami taat” ini mengungkapkan ketulusan dan kepatuhan sehingga membuat jiwa merasa ringan bahkan senang dalam melaksanakan kewajiban.

وَمَا  كَانَ  لِمُؤْمِنٍ  وَّلَا  مُؤْمِنَةٍ  اِذَا  قَضَى  اللّٰهُ  وَرَسُوْلُهٗۤ  اَمْرًا  اَنْ  يَّكُوْنَ  لَهُمُ  الْخِيَرَةُ  مِنْ  اَمْرِهِمْ   ۗ وَمَنْ  يَّعْصِ  اللّٰهَ  وَرَسُوْلَهٗ  فَقَدْ  ضَلَّ  ضَلٰلًا  مُّبِيْنًا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Konsekuensi keimanan yang diungkapkan oleh ayat inilah yang ingin diingatkan Allah melalui panggilan di awal ayat puasa di atas, “wahai orang-orang beriman”, sebagai landasan dalam merespon syariat yang ditetapkan. Landasan iman dalam merespon suatu kewajiban memberikan kekuatan kepada jiwa untuk menghadapi berbagai kewajiban yang terasa berat sehingga terasa ringan. Apalagi sekedar berpuasa di siang hari. Bahkan yang lebih berat dari hal itu pun jiwa yang telah dicelup dengan keimanan itu siap menghadapinya dengan enteng dan senang hati. Ini bisa kita baca dalam kisah para tukang sihir Fir’aun. Setelah para tukang sihir itu kalah dalam adu “ilmu” dengan Nabi Musa as, mereka pun beriman. Setelah mereka beriman, Fir’aun mengancam mereka dengan ancaman potong tangan dan kaki secara bersilamg (QS. Thaha: 71), tetapi ancaman ini ditanggapi santai dengan menunjukkan kesiapan menerima segala resiko yang ada karena hal itu sudah menjadi bagian dari konsekwensi keimanan.

قَا لُوْا  لَنْ  نُّؤْثِرَكَ  عَلٰى  مَا  جَآءَنَا  مِنَ  الْبَيِّنٰتِ  وَا لَّذِيْ  فَطَرَنَا  فَا قْضِ  مَاۤ  اَنْتَ  قَا ضٍ   ۗ اِنَّمَا  تَقْضِيْ  هٰذِهِ  الْحَيٰوةَ  الدُّنْيَا  

“Mereka (para pesihir) berkata, Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.” (QS. Ta-Ha: 72)

اِنَّاۤ  اٰمَنَّا  بِرَبِّنَا  لِيَـغْفِرَ  لَـنَا  خَطٰيٰنَا  وَمَاۤ  اَكْرَهْتَـنَا  عَلَيْهِ  مِنَ  السِّحْرِ   ۗ وَا للّٰهُ  خَيْرٌ  وَّاَبْقٰى

“Kami benar-benar telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).” (QS. Ta-Ha: 73)

Karena itu, mengingatkan aspek keimanan di awal ayat puasa ini, sebelum menyampaikan kewajiban, menjadi sesuatu yang sangat diperlukan dan sangat tepat sebagai pengondisian jiwa untuk bisa menerimanya dengan senang hati. Demikian pula yang dilakukan Allah di ayat-ayat lainnya sebelum menyampaikan berbagai kewajiban. Ini termasuk salah satu kemukjizatan al-Quran sekaligus menunjukkan kasih sayang Allah kepada orang-orang beriman. Sabda Nabi saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Bukhari 37)

Menundukkan jiwa dengan iman menjadi cara paling efektif untuk mau menerima hukum-hukum dan syariat Allah dengan ridha, senang dan mantap. Bila jiwa sudah tunduk mengikuti iman maka ia menjadi energi dan kekuatan untuk melaksanakan kewajiban tanpa merasa berat. Bahkan tidak mau ditukar dengan apa pun.

Kedua, Allah juga menyebutkan di dalam ayat yang sama, “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”.

كما كتب على الذين من قبلكم

Pendekatan sejarah ini juga dimaksudkan untuk memberikan motivasi agar orang-orang beriman tidak merasa berat dalam melaksanan puasa di bulan ramadhan penuh. Karena kewajiban puasa ini bukan kewajiban pertama dalam sejarah agama-agama dan bukan hal baru dalam syariat, tetapi merupakan syariat yang juga diwajibkan Allah kepada umat-umat terdahulu. Secara psikologis, banyaknya orang yang ikut melaksakan suatu kewajiban bisa meringankan beban yang dirasakan jiwa manusia. Atau bisa meringankan “tekanan” syariat ini di dalam jiwa dan memudahkan penyampaiannya kepada jiwa. Apalagi diantara karakter jiwa manusia ini tidak menyukai apa yang namanya ikatan kewajiban, karena jiwa manusia cenderung ingin bebas tidak mau diatur-atur dan dibatasi, sehingga jiwa ini harus ditundukkan. Apalagi jika puasa di masa umat Nabi Muhammad saw ini dibandingkan dengan puasa umat-umat terdahulu. Puasa umat terdahulu lebih berat dan ekstrem dibandingkan dengan puasa kita.

Di masa umat terdahulu, orang-orang yang berpuasa di siang hari diharamkan makan, minum dan melakukan hubungan suami-istri di malam hari bila tertidur setelah isya’. Bahkan di masa awal umat ini hukum tersebut masih diberlakukan hingga terasa berat lalu terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian sahabat Nabi saw, diantaranya Umar bin Khatab ra, lalu dengan sebab peristiwa tersebut Allah menghapus hukum tersebut dengan menurunkan ayat-Nya:

اُحِلَّ  لَـکُمْ  لَيْلَةَ  الصِّيَا مِ  الرَّفَثُ  اِلٰى  نِسَآئِكُمْ   ۗ هُنَّ  لِبَا سٌ  لَّـكُمْ  وَاَ نْـتُمْ  لِبَا سٌ  لَّهُنَّ   ۗ عَلِمَ  اللّٰهُ  اَنَّکُمْ  كُنْتُمْ  تَخْتَا نُوْنَ  اَنْفُسَکُمْ  فَتَا بَ  عَلَيْكُمْ  وَعَفَا  عَنْكُمْ   ۚ فَا لْــئٰنَ  بَا شِرُوْهُنَّ  وَا بْتَغُوْا  مَا  کَتَبَ  اللّٰهُ  لَـكُمْ   ۗ وَكُلُوْا  وَا شْرَبُوْا  حَتّٰى  يَتَبَيَّنَ  لَـكُمُ  الْخَـيْطُ  الْاَ بْيَضُ  مِنَ  الْخَـيْطِ  الْاَ سْوَدِ  مِنَ  الْفَجْرِ   ۖ ثُمَّ  اَتِمُّوا  الصِّيَا مَ  اِلَى  الَّيْلِ   ۚ وَلَا  تُبَا شِرُوْهُنَّ  وَاَ نْـتُمْ  عٰكِفُوْنَ   ۙ فِى  الْمَسٰجِدِ   ۗ تِلْكَ  حُدُوْدُ  اللّٰهِ  فَلَا  تَقْرَبُوْهَا   ۗ كَذٰلِكَ  يُبَيِّنُ  اللّٰهُ  اٰيٰتِهٖ  لِلنَّا سِ  لَعَلَّهُمْ  يَتَّقُوْنَ

“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Sisi sejarah puasa yang disebut dalam ayat puasa ini membantu menguatkan jiwa dan memori orang yang berpuasa sehingga terasa ringan dalam menjalani puasa yang sudah diringankan pelaksanaannya tersebut.

Ketiga, di bagian akhir ayat puasa ini disebutkan:

 “لعلكم تتقون “

Ini untuk mengingatkan bahwa puasa ini bukan hanya ujian saja, juga bukan hanya kesulitan yang tidak punya tujuan. Tetapi juga merupakan latihan (riyadhah), tarbiyah (pendidikan), ishlah (perbaikan), tarqiyah (peningkatan) dan tanmiyah (pengembangan) bagi kepribadian orang yang berpuasa sehingga setelah menjalani “madrasah ramadhan” ini akan menjadi manusia yang utama dan memiliki kepribadian yang kuat. Mampu mengendalikan hawa nafsu dan tidak dikendalikan hawa nafsu.

Tujuan atau target ini membuat orang yang berpuasa bersemangat untuk mencapai target yang akan meningkatkan kwalitas dirinya sehingga dia akan menjalani puasa ini dengan senang hati, karena ada target mulia yang diharapkan di sisi Allah.

oleh: Ust. Aunur Rafiq Saleh Lc.

(DPS RS YARSI)

0 Komentar

Agenda / Event

wa