Apa Sih, Obsessive Compulsive Disorder?

“Fanatik banget deh pasti OCD nih”

“Aku tuh OCD, semua harus bersih dan rapi”

“Kok bisa OCD, punya trauma ya?”

Begitu banyak stigma yang didapat oleh mereka yang mengidap permasalahan dalam kesehatan mental. Salah satunya adalah kepada mereka yang mengidap Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Stigma ini tidak hanya didapat dari masyarakat, namun juga bisa diberikan oleh penyintas kepada dirinya sendiri. Hal ini dapat membuat penyintas merasa terhakimi, malu, didiskriminasi dan bahkan enggan mencari pertolongan. Tapi sejauh mana kebenaran stigma yang beredar? Yuk, pahami bersama.


OCD merupakan gangguan kecemasan dimana seseorang terjebak dalam siklus obsesif dan kompulsif. Obsessive Compulsive Disorder terdiri dari dua kata yaitu obsesif dimana terdapat pikiran mendesak yang sulit dihentikan oleh seseorang. Saat memiliki pikiran obsesif, penyintas dapat memiliki keyakinan disfungsional yang dapat mencakup rasa tanggung jawab yang tinggi, intoleransi terhadap ketidakpastian, perfeksionisme, atau pandangan berlebihan tentang pikiran yang mengganggu. Sementara kompulsif merupakan perilaku dari pikiran obsesif tersebut. Maksud di balik perilaku kompulsif ini adalah untuk menghindari kecemasan atau pemikiran obsesif. Maka jika perilaku ini tidak dilakukan, penyintas OCD cenderung dapat merasakan kecemasan yang berlebihan.

Hal yang paling sering dikaitkan dengan OCD adalah checking dan cleaning, meski lingkup OCD tidak hanya terbatas pada kebersihan dan kerapian saja. Seperti contohnya, penyintas OCD akan merasa cemas jika tidak berulang kali memeriksa pintu sebelum meninggalkan rumah dan bahkan bisa merambah kepada hal-hal yang bersifat lebih controling.

Apa sih yang menyebabkan seseorang mengidap OCD?

OCD dapat menyerang siapa saja tanpa harus mengalami trauma tertentu. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor biologis, pola asuh, dan lingkungan.

dr. Citra Fitri Agustina Sp.KJ, Dokter Spesialis Kejiwaan RS YARSI menegaskan bahwa harapan pasien untuk sembuh akan selalu ada. Keberhasilan terapi merupakan kerja sama antara dokter, pasien dan keluarga pasien. Untuk jenis pengobatan OCD dapat berupa obat dan dapat juga dilakukan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk identifikasi masalah dan pikiran yang akan diubah untuk menjadi lebih positif.

Jika rasa cemas yang dirasa sudah mengganggu dari segi pekerjaan maupun fungsi interaksi sosial, menyebabkan gangguan tidur, hingga membuat penyintas tak lagi dapat beraktifitas, maka sebaiknya segera mendapatkan bantuan profesional.

Berikut nama Dokter Spesialis Kejiwaan RS YARSI:

  • dr. Citra Fitri Agustina, Sp.KJ
  • dr. Dian Widiastuti Vietara, Sp.KJ (K)
  • dr. Roswinar, Sp.KJ, M.Kes

Untuk membuat reservasi konsultasi dengan dokter spesialis RS YARSI silahkan menghubungi WhatsApp rawat jalan pada nomor 0818-118-804.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya  dengan  mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”- (QS Al-Ra’ad:28)

Sumber: stopthestigma, world health organization, psychologytoday

0 Komentar

Agenda / Event

wa